Photography Ring Flash

Photography Ring Flash adalah sebuah lampu flash berbentuk lingkaran atau bertujuan untuk menghasilkan sumber cahaya tiruan berbentuk melingkar. Ring Flash digunakan untuk menghilangkan atau meminimalisasi bayangan (shadow) pada subject foto. Banyak cara yang digunakan untuk membangun efek ring flash silahkan di google saja.

Tertarik dengan tantangannya (harga yang mahal) saya mencoba membangun sebuah ring flash dari 8 buah flash mur-mer (murah meriah non power adjusted flash) yang akan saya kendalikan powernya lalu di-trigger bersamaan, berikut power pack-nya, spesifikasi nya adalah sebagai berikut :
1. Adjustable power 1,1/2 s/d 1/8 steples
2. Lead Acid battery power pack
3. LCD interface for battery & Flash Power monitor

bahan-bahan

 

desain awal tanpa LCD

desain akhir panel kontrol sekaligus battery pack dengan LCD

silahkan lihat skema berikut:

Skema rangkaian tidak berbeda jauh dengan rangkaian pada artikel DIY flash, sebab cara kerjanya sama, hanya dihubungkan parallel 8 buah lampu flash yang agak sedikit berbeda  (bila diinginkan adalah daya dari main capacitor yang akan terdistribusi ke 8 buah flash).

Pada microcontroller ATMega 8 ada 3 buah pin ADC yang digunakan untuk memonitor tegangan analog antara lain pin PC0 (ADC0) untuk membaca setting power yang diperoleh dari pembagi tegangan dari sebuah potensiometer dan supply 5 volt, lalu pin PC4 (ADC4) digunakan untuk memonitor tegangan tinggi yang dibangkitkan. Tegangan ini juga dikendalikan untuk pengaturan power, selanjutnya pin PC5(ADC5) digunakan untuk memonitor tegangan battery. Sebuah rangkaian opto digunakan sebagai koneksi ke shoe kamera dan menjamin isolasi optis, alias tidak ada electric connection ke body camera.

Pin PB1 mengeluarkan sinyal PWM yang digunakan untuk men-drive pembangkit tegangan yang juga dikompensasi dari bacaan ADC dari pin PC4 yang dibandingkan dengan setting power pin PC0. Pengaturan lebar pulsa PWM menentukan level tengangan yang dihasilkan. Level tegangan pada main capacitor menentukan daya yang di simpan yang nantinya akan dilepaskan ke xenon tube. Trafo yang digunakan berinti ferit (karena frekwensi PWM cukup tinggi) akan tetapi gulungan tidak terlalu kritis selama perbandingan gulungannya seusai dengan tegangan input 12 Volt dan output hingga 350 Volt.

camera mount

 

unit + battery pack

 

first test

 

semoga bermanfaat
Dian Kurniawan

DIY (Do It Your Self) Photography Flash Lamp

Sudah lama tidak kutak-katik camera, kali ini saya mau share experiment saya tentang lampu flash. Jeda sejenak membahas RF.

Lampu flash yang di gunakan pada photography sebenarnya tidak berbeda dengan lampu strobo/strobe. Hanya saja ada konsern di temperatur warna cahaya atau biasa di kenal sebagai pengaturan white balance.

Gambar berikut adalah contoh rangkaian kit strobe light yang berkerja dengan prinsip yang sama dengan lampu flash.

perhatikan rangkaian berikut sebagai basic dari rangkaian flash

Tegangan pada pin TR+ dan TR- (trigger) menyebabkan led pada MOC3021 menyala dan menyebabkan Triac berada pada kondisi menghantar. Kondisi ini menyebabkan SCR juga turut menghantar sehingga mengosongkan isi capacitor C2 yang sebelumnya di isi melalui R1. Pengosongan C2 ini menyebabkan adanya tegangan tinggi di sekunder T1 sekitar 3-5KV. Tegangan setinggi 3-5KV ini digunakan untuk mengionisasi gas didalam xenon flas tube sehingga mentrigger kondisi low impedance dari gas xenon di dalam tabung. Hal ini menyebabkan gas menjadi konduktor yang dalam waktu singkat mengosongkan tegangan pada C1 yang sebelumnya diisi oleh tegangan DC sekitar 150-350V (bisa berbeda sesuai dengan spesifikasi xenon tube). Proses pengosongan C1 melalui tabung xenon ini membangkitkan cahaya seperti kilat. Cahaya ini yang kemudian di manfaatkan oleh rekan-rekan photographer sebagai cahaya tambahan untuk kebutuhan pemotretan.

Dari rangkaian basic diatas kemudian berkembang menjadi lebih kompleks dengan berbagi pertimbangan antara lain adalah sbb:

  • sumber daya yang akan di gunakan untuk mengisi main capacitor (C1), tegangan jala-jala atau battery lead acid, atau cell AA 1,5V, 3V dst.. atau bahkan termasuk rangkaian battery charging nya
  • seberapa besar intensitas cahaya maksimum yang ingin dihasilkan terkait dengan jenis xenon tube tegangan kerja, tegangan trigger
  • pengaturan-pengaturan yang diinginkan seperti energi yang disimpan pada main capacitor, durasi charging dan discharge, durasi konduksi gas dan sebagainya
  • user interface antara manusia dan flash (display , tombol pengaturan, indikator dsb)
  • hubungan antara flash dan kamera atau pengaturan kamera (manual, TTL, iTTL dsb)
  • methode trigger infrared, slave trigger, wireless radio, shoe camera dll

contoh interface pengaturan

Dari kondisi-kondisi dan pertimbangan diatas saya coba design sebuah lampu flash dengan perhitungan sederhana dengan pilihan sbb:
*. sumber daya disupply oleh battery lithium ion 7V-12V dengan battery level monitor
*. energi disipasi sekitar 100Watt
*. adjustable flash duration 1/10000 (0.1ms) s/d 1/100 (10ms) sec ?
*. monitor/indicator main capacitor charging
*. expansion trigger with optocoupler

cara kerja rangkaian adalah sebagai berikut:

  • Microcontroller ATMega8 adalah kendali utama dengan fitur I/O,  1 buah LCD 2×16 character, 1 buah rotary encoder untuk pengaturan input parameter, 2 buah ADC input untuk monitor tegangan battery dan tegangan step-up, 2 buah MOSFET out untuk pwm step-up dan gate Xenon
  • Kendali pengguna atas besaran flash (durasi) di input melalui rotary encoder
  • Sebuah PWM sinyal melalui pin15 microcontroller mengemudikan power MOSFET (BUZ11) untuk memberikan sinyal primer pada TR1. Sebuah dioda penyearah dan capacitor filter pada sekunder TR1, mensuplay tegangan tinggi DC bagi pegisian main capacitor (100uF) yang dimonitor levelnya oleh microcontroller melalui pin27 (ADC4) setelah melalui pembagi tegangan dan filter. Feedback dari ADC4 ini menentukan sinyal PWM yang diberikan
  • Sinyal trigger (TR+ dan TR-) yang di input melalui rangkaian opto MOC3021 di hubungkan melalui pin5 microcontroller (pin interupsi) menjadi start awal durasi menyala flash dengan selanjutnya memicu sinyal bagi trafo trigger (TR2) untuk memberikan tegangan ionisasi untuk xenon tube.
  • Dalam jeda waktu yang di tentukan melalui rotary encoder sebelumnya MOSFET (IR740) selanjutnya memutus hubungan tabung xenon dengan pembumian yang berarti pengaturan durasi pengosongan main capacitor sekaligus sebagai pengaturan intensitas flash.
  • Sebuah LCD 2×16 character menjadi display untuk pengaturan (durasi/power), battery level, dan main capacitor lever

note: masih ada beberapa kaki Microcontroller yang belum terpakai, tidak tertutup kemungkinan untuk update firmwarenya untuk sekaligus membuatkan rangkaian charging yg di kendalikan microcontroller..

semoga bermanfaat
Dian Kurniawan

Merakit sendiri IR remote shutter untuk DSLR Nikon

(Compatible untuk kamera D40,D60,D70,D80,D90,D3000, D5000)
alat ini di buat dengan ide dari web berikut http://www.bigmike.it/ircontrol/

Remote kompatible dengan wireless shutter remote standard Nikon type ML-L3 dan ML-L1.
Dengan menggunakan remote ini kita dapat melakukan penekanan tombol shutter dari jarak jauh tanpa kabel (kira-kira hingga 10 meter)

Prinsip kerja remote adalah dengan membangun sinyal infra merah seperti grafik berikut dengan menggunakan mikrokontroller ATTiny13.

ATTiny13 adalah mikrokontroller 8 bit produksi ATMEL dengan spesifikasi umum sbb:
*. 1 Kbyte Flash program memory
*. 64 byte EEPROM
*. 64 byte SRAM
*. 8 pin
*. up to 20 MIPS at 20MHz Clock
*. 2.7V-5.5V operating voltage
*. <5uA at power down mode

Bandingkan dengan mikrokontroller type lain dengan jumlah flash dan ram yang jauh lebih besar, akan tetapi spesifikasi diatas sudah lebih dari cukup untuk sebuah peralatan yang di operasikan oleh battery seperti remote shutter.

Pada skematik diagram terlihat sebuah push button yang akan membangunkan mikrokontroller dari power down mode yang selanjutnya mikrokontroller memberikan pulsa PWM nya kepada LED setelah terlebih dahulu di perkuat oleh transistor TR1 yang mengalirkan listrik dari catu daya melalui tahanan pembatas arus R1.

Keistimewaan rangkaian dan firmware remote ini adalah adanya powerdown mode yang menyebabkan rangkaian hanya menggunakan arus sebesar <5uA yang menjamin daya tahan battery lebih lama.

Pada listing program pwm dan pulsa data kepada remote menggunakan teknik bit bang, yang artinya I/O pin di berikan logic secara manual oleh program.

‘*******************************************************************************
‘*******************************************************************************
‘ Remote Nikon
‘ BASCOM AVR
‘*******************************************************************************
$regfile = “ATtiny13.DAT”
$crystal = 9600000
$hwstack = 32
$swstack = 8
$framesize = 16

Config Portb.0 = Output
Led Alias Portb.0

Dim I As Word
Dim J As Byte

Config Int0 = Low Level                                                         ‘ enable wake up interrupt

Enable Interrupts
Enable Int0
On Int0 Button Nosave

Do
NOP
Powerdown                                                                    ‘set to power down mode
Loop

Button:
Disable Int0

For J = 1 To 2

For I = 1 To 76
Set Led
Waitus 12
Reset Led
Waitus 12
Next I

Waitms 28

For I = 1 To 15
Set Led
Waitus 12
Reset Led
Waitus 12
Next I

Waitus 1580

For I = 1 To 15
Set Led
Waitus 12
Reset Led
Waitus 12
Next I

Waitus 3580

For I = 1 To 15
Set Led
Waitus 12
Reset Led
Waitus 12
Next I

Waitms 63
Next J

Waitms 500
Enable Int0
Return
‘*******************************************************************************
‘*******************************************************************************

Komponen:
*. 1 buah Atmel ATTiny13 microcontroller (8 pin DIP + optional socket)
*. 1 buah IR LED (infra red LED)
*. 1 buah Coin Battery CR2032 (3V)
*. 1 buah Transistor BC547 (atau sejenisnya)
*. 1 buah Resistor 47 Ohm
*. 1 buah push button
*. 1 buah kotak plastik (atau sejenisnya)

Cukup dengan PCB strip rangkaian sudah dapat di rakit, tentunya akan lebih mudah bila di buatkan PCB nya.