Photography Ring Flash

Photography Ring Flash adalah sebuah lampu flash berbentuk lingkaran atau bertujuan untuk menghasilkan sumber cahaya tiruan berbentuk melingkar. Ring Flash digunakan untuk menghilangkan atau meminimalisasi bayangan (shadow) pada subject foto. Banyak cara yang digunakan untuk membangun efek ring flash silahkan di google saja.

Tertarik dengan tantangannya (harga yang mahal) saya mencoba membangun sebuah ring flash dari 8 buah flash mur-mer (murah meriah non power adjusted flash) yang akan saya kendalikan powernya lalu di-trigger bersamaan, berikut power pack-nya, spesifikasi nya adalah sebagai berikut :
1. Adjustable power 1,1/2 s/d 1/8 steples
2. Lead Acid battery power pack
3. LCD interface for battery & Flash Power monitor

bahan-bahan

 

desain awal tanpa LCD

desain akhir panel kontrol sekaligus battery pack dengan LCD

silahkan lihat skema berikut:

Skema rangkaian tidak berbeda jauh dengan rangkaian pada artikel DIY flash, sebab cara kerjanya sama, hanya dihubungkan parallel 8 buah lampu flash yang agak sedikit berbeda  (bila diinginkan adalah daya dari main capacitor yang akan terdistribusi ke 8 buah flash).

Pada microcontroller ATMega 8 ada 3 buah pin ADC yang digunakan untuk memonitor tegangan analog antara lain pin PC0 (ADC0) untuk membaca setting power yang diperoleh dari pembagi tegangan dari sebuah potensiometer dan supply 5 volt, lalu pin PC4 (ADC4) digunakan untuk memonitor tegangan tinggi yang dibangkitkan. Tegangan ini juga dikendalikan untuk pengaturan power, selanjutnya pin PC5(ADC5) digunakan untuk memonitor tegangan battery. Sebuah rangkaian opto digunakan sebagai koneksi ke shoe kamera dan menjamin isolasi optis, alias tidak ada electric connection ke body camera.

Pin PB1 mengeluarkan sinyal PWM yang digunakan untuk men-drive pembangkit tegangan yang juga dikompensasi dari bacaan ADC dari pin PC4 yang dibandingkan dengan setting power pin PC0. Pengaturan lebar pulsa PWM menentukan level tengangan yang dihasilkan. Level tegangan pada main capacitor menentukan daya yang di simpan yang nantinya akan dilepaskan ke xenon tube. Trafo yang digunakan berinti ferit (karena frekwensi PWM cukup tinggi) akan tetapi gulungan tidak terlalu kritis selama perbandingan gulungannya seusai dengan tegangan input 12 Volt dan output hingga 350 Volt.

camera mount

 

unit + battery pack

 

first test

 

semoga bermanfaat
Dian Kurniawan

Advertisements

Embedded Electronic dan SAP

SAP RFC
Beberapa tahun ke belakang (sebelum ECC version) kebanyakan interface ke SAP dilakukan dengan RFC dengan basis CPIC connection dengan selanjutnya muncul istilah-istilah ITS (Internet Transaction Server), lalu BSP (Business Server Page).

Di era yang saya sebutkan di atas ada beberapa kali saya berusaha membuat sebuah embedded device yang mampu terkoneksi ke SAP dengan menggunakan TCP/IC connection dengan mencoba mem-parsing RFC data packet. Saya bangun TCP/IP embedded system dengan menggunakan ATMega32 dan sebuah card ethernet ISA bekas. Lalu saya capture packet-packet data dari sebuah PC yang login ke SAP menggunakan software Ethereal/Wireshack . Packet-paket data tersebut saya masukkan ke dalam SD Card dalam bentuk binari yang kemudian dibaca microcontroller lalu ditransmissikan melalui jaringan ethernet ke SAP server seolah-olah layaknya sebuah PC.  And yes,  it connected dan berhasil log on ke SAP as RFC user. Tapi semua itu hanya sampai di sana sebab saya tidak pernah tahu detail parsing dari data di dalam packet-packet tersebut. Karena memang packet tersebut propriatery dari SAP dan tidak akan di-publish strukturnya. Namun,  saya cukup senang bisa log on dari embedded system.

SAP WebService
Thanks to SAP yang pada versi selanjutnya mengembangkan kemampuan Webservice sebagai salah satu kemampuan interface-nya. Pada saat mengetahui bahwa SAP support webservice ide-ide saya berkembang dan terpancing dengan liar. Bagaimana tidak terpancing,  sudah terbayang oleh saya berbagai device dan platform yang akan mudah dihubungkan dengan SAP.  Berbagai perangkat mobile, webpad seperti IPad, Samsung Galaxy, Apad dan bahkan Cellular phone mid-low (JSR-000172 J2ME support) saat ini pun sudah support MIDP.  Apalagi smartphone seperti Blackberry. Ya Blackberry, langsung terbayang oleh saya melakukan release document, melakukan transfer posting bahkan bagaimana dengan mini management cockpit untuk executive report melalui Blackbery (BB).  Semangat bereksperimen mendorong saya untuk hunting low level BB product dengan OS minimun untuk dijadikan based development, dan akhirnya saya berhasil memperoleh satu buah BB tua seri 8700 dengan BB OS 4.5.

Lalu bekerjalah downloader untuk memilih IDE (Integrated Development Environment) yang akan digunakan, NetBean, Eclipse, sampai Microsoft Visual Studio, lalu JRE (Java Runtime Engine), Blackberry JDE (Java Development Ennviroment) saya coba satu persatu, beberapa J2ME framework seperti JME2 Polish juga tak luput dari sasaran download.  Serta tidak lupa BES and BIS versi trial.

link utk software-software diatas:
*. Eclipse
*. Netbean
*. Blackberry JDE
*. JME2 Polish

Setelah kerja keras dan penantian dengan sabar download dari internet broadband versi indonesia (total saya download kira-kira hampir 3GB selama 1 minggu), dimulailah code and code bug and bug. Dan akhirnya saya bisa connect ke SAP melalui blackberry dan melakukan transfer posting, display stock dan lainnya. Sempat saya beri nama Mobiberry dan sedikit keinginan untuk membuatnya menjadi komersial product sebagai mobile solution tapi saya sadar tidak cukup resource yang saya miliki untuk melakukan itu.

Berbicara web service tentunya tidak lepas dari istilah-istilah XML, SOAP, WSDL, UDDI dan lainnya (bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai WSDL bisa dibaca pada link berikut “WSDL Port“, juga untuk SAP webservices pada link berikut “SAP WebServices“.

SAP dengan Embedded WebService
Setelah sukses dengan BB saya coba gali lebih dalam webservice ini  dengan membaca dan mencoba.  Lalu munculah suatu ide untuk mengakses/consume webservice melalui embedded system 8 bit microcontroller.  Why not?

Konsepnya adalah sebuah embedded device (mungkin cukup yang 8 bit) dengan ethernet port sebagai I/O serta sebuah SD Card sebagai storage (External Virtual RAM), dengan TCP/IP stack, XML Stack (untuk parsing dan building) harusnya bisa dilakukan untuk mengkonsum webservice. Intinya adalah bagaimana melakukan HTTP SOAP Request melalui embedded TCP/IP. Perhatikan gambar berikut.

Sebuah embedded device berfungsi sebagai client yang akan melakukan request dan mendapatkan response melalui TCP/IP sebagai transport layer. SAP yang memiliki webservice engine sebagai listener akan merespon request tersebut dan melanjutkan service method nya ke applikasi dan object SAP dalam hal ini RFC/BAPI, lalu mengembalikan response kepada requestor.

Sedikit mundur kebelakang mengenai HTTP. HTTP berkomunikasi di atas TCP/IP (katakan ethernet) sebagai transport layer. HTTP Client terhubung ke HTTP Server melalui TCP. Setelah hubungan terjalin client mengirimkan HTTP request message ke HTTP server:

POST /item HTTP/1.1
Host: 189.123.345.239
Content-Type: text/plain
Content-Length: 200

Lalu HTTP server memberikan reponse:

200 OK
Content-Type: text/plain
Content-Length: 200

detil mengenai HTTP Protocol (RFC2616) silahkan di baca pada link berikut : (RFC2616)

Selanjutnya kita binding SOAP (Simple Object Access Protocol) dengan HTTP. SOAP method adalah HTTP request dan response yang comply dengan SOAP encoding rule. Secara sederhana bisa dikatakan:

HTTP + XML = SOAP

sebuah SOAP request sebenarnya bisa berupa HTTP GET atau HTTP POST (bagi yang sudah terbiasa dengan HTTP protocol tentu sudah tidak asing lagi).

Berikut adalah contoh SOAP request.

POST /InStock HTTP/1.1
Host: http://www.example.org
Content-Type: application/soap+xml; charset=utf-8
Content-Length: nnn

<?xml version=”1.0″?>
<soap:Envelope
xmlns:soap=”http://www.w3.org/2001/12/soap-envelope&#8221;
soap:encodingStyle=”http://www.w3.org/2001/12/soap-encoding”&gt;

<soap:Body xmlns:m=”http://www.example.org/stock”&gt;
<m:GetStockPrice>
<m:StockName>IBM</m:StockName>
</m:GetStockPrice>
</soap:Body>

</soap:Envelope>

dan contoh SOAP response

HTTP/1.1 200 OK
Content-Type: application/soap+xml; charset=utf-8
Content-Length: nnn

<?xml version=”1.0″?>
<soap:Envelope
xmlns:soap=”http://www.w3.org/2001/12/soap-envelope&#8221;
soap:encodingStyle=”http://www.w3.org/2001/12/soap-encoding”&gt;

<soap:Body xmlns:m=”http://www.example.org/stock”&gt;
<m:GetStockPriceResponse>
<m:Price>34.5</m:Price>
</m:GetStockPriceResponse>
</soap:Body>

</soap:Envelope>

Dengan membangun xml parser dan xml generator pada TCP/IP enabled embedded device yang kita miliki kita bisa melakukan SOAP request dan response. Selanjutnya tinggal kita ketahui SOAP structure dan response yang sesuai dengan object SAP yang ingin kita access dari embedded berikut adalah salah satu SOAP yang digunakan untuk mengakses suatu RFC module di SAP

<?xml version=”1.0″ encoding=”UTF-8″?>
<soapenv:Envelope xmlns:soapenv=”http://schemas.xmlsoap.org/soap/envelope/&#8221; xmlns:z01=”http://XXXdonesia/xi/z01fcm002caget”&gt;
<soapenv:Header/>
<soapenv:Body>
<z01:z01fcm002cagetRequestDT>
<I_BUSPARTNER/>
<I_CONT_ACCT>000000000655</I_CONT_ACCT>
</z01:z01fcm002cagetRequestDT>
</soapenv:Body>
</soapenv:Envelope>

Implementasi Embedded device Webservice dan SAP

  • Machine to SAP  interface. Dengan menggunakan embedded device kita bisa melakukan shop-floor data transaction yang real-time akurat dan tanpa sentuhan manusia. Silahkan dibayangkan bagaimana sebuah mesin produksi yang secara langsung dapat melaporkan ouputnya sehingga secara otomatis melakukan GR (goods receive) atas suatu production order atau sebuah metering valve yang melaporkan banyaknya aliran fluida menjadi suatu transaksi stock transfer antar silo – pipe atau bahkan misalnya suatu metering device yang mampu menerbitkan customer invoice atas pemakaian dan banyak lagi.
  • Portable Data Terminal. Salah satu key succes ERP adalah “real time”. Konsepnya adalah bagaimana kita membawa transaksi (input data) sedekat mungkin dengan sumber data (shop floor) dengan mudah dan murah. Sehingga data ownership menjadi lekat dengan sumber data. Alangkah baiknya bila seorang picker atau warehouse crew sambil mengendarai forklift dapat melakukan secara realtime transaksi put away atau picking atau bahkan melakukan physical inventory count..
  • Mobile transaction, bentuk lain dari portable data terminal yang memiliki feature telekomunikasi yang canggih, katakanlah GSM-GPRS atau bahkan 3G memungkinkan sebuah transaksi/laporan/warning/earlywarning menjadi mobile sejauh komunikasi mampu menghubungkan bagi eksekutif/sales dsb, dengan mudah seorang sales dapat memantau finished goods stock, price atau informasi lainnya untuk mendukung CRM secara online-realtime dari manapun dia berada selama ada sinyal cellular..

Mudah-mudahan ada project terkait embedded device/electronic dan SAP sehingga bisa saya share.

semoga bermanfaat

Dian Kurniawan


SAP AG official site
SAP defines business software as comprising enterprise resource planning and related applications such as supply chain management, customer relationship management, product life-cycle management, and supplier relationship management.

DIY (Do It Your Self) Photography Flash Lamp

Sudah lama tidak kutak-katik camera, kali ini saya mau share experiment saya tentang lampu flash. Jeda sejenak membahas RF.

Lampu flash yang di gunakan pada photography sebenarnya tidak berbeda dengan lampu strobo/strobe. Hanya saja ada konsern di temperatur warna cahaya atau biasa di kenal sebagai pengaturan white balance.

Gambar berikut adalah contoh rangkaian kit strobe light yang berkerja dengan prinsip yang sama dengan lampu flash.

perhatikan rangkaian berikut sebagai basic dari rangkaian flash

Tegangan pada pin TR+ dan TR- (trigger) menyebabkan led pada MOC3021 menyala dan menyebabkan Triac berada pada kondisi menghantar. Kondisi ini menyebabkan SCR juga turut menghantar sehingga mengosongkan isi capacitor C2 yang sebelumnya di isi melalui R1. Pengosongan C2 ini menyebabkan adanya tegangan tinggi di sekunder T1 sekitar 3-5KV. Tegangan setinggi 3-5KV ini digunakan untuk mengionisasi gas didalam xenon flas tube sehingga mentrigger kondisi low impedance dari gas xenon di dalam tabung. Hal ini menyebabkan gas menjadi konduktor yang dalam waktu singkat mengosongkan tegangan pada C1 yang sebelumnya diisi oleh tegangan DC sekitar 150-350V (bisa berbeda sesuai dengan spesifikasi xenon tube). Proses pengosongan C1 melalui tabung xenon ini membangkitkan cahaya seperti kilat. Cahaya ini yang kemudian di manfaatkan oleh rekan-rekan photographer sebagai cahaya tambahan untuk kebutuhan pemotretan.

Dari rangkaian basic diatas kemudian berkembang menjadi lebih kompleks dengan berbagi pertimbangan antara lain adalah sbb:

  • sumber daya yang akan di gunakan untuk mengisi main capacitor (C1), tegangan jala-jala atau battery lead acid, atau cell AA 1,5V, 3V dst.. atau bahkan termasuk rangkaian battery charging nya
  • seberapa besar intensitas cahaya maksimum yang ingin dihasilkan terkait dengan jenis xenon tube tegangan kerja, tegangan trigger
  • pengaturan-pengaturan yang diinginkan seperti energi yang disimpan pada main capacitor, durasi charging dan discharge, durasi konduksi gas dan sebagainya
  • user interface antara manusia dan flash (display , tombol pengaturan, indikator dsb)
  • hubungan antara flash dan kamera atau pengaturan kamera (manual, TTL, iTTL dsb)
  • methode trigger infrared, slave trigger, wireless radio, shoe camera dll

contoh interface pengaturan

Dari kondisi-kondisi dan pertimbangan diatas saya coba design sebuah lampu flash dengan perhitungan sederhana dengan pilihan sbb:
*. sumber daya disupply oleh battery lithium ion 7V-12V dengan battery level monitor
*. energi disipasi sekitar 100Watt
*. adjustable flash duration 1/10000 (0.1ms) s/d 1/100 (10ms) sec ?
*. monitor/indicator main capacitor charging
*. expansion trigger with optocoupler

cara kerja rangkaian adalah sebagai berikut:

  • Microcontroller ATMega8 adalah kendali utama dengan fitur I/O,  1 buah LCD 2×16 character, 1 buah rotary encoder untuk pengaturan input parameter, 2 buah ADC input untuk monitor tegangan battery dan tegangan step-up, 2 buah MOSFET out untuk pwm step-up dan gate Xenon
  • Kendali pengguna atas besaran flash (durasi) di input melalui rotary encoder
  • Sebuah PWM sinyal melalui pin15 microcontroller mengemudikan power MOSFET (BUZ11) untuk memberikan sinyal primer pada TR1. Sebuah dioda penyearah dan capacitor filter pada sekunder TR1, mensuplay tegangan tinggi DC bagi pegisian main capacitor (100uF) yang dimonitor levelnya oleh microcontroller melalui pin27 (ADC4) setelah melalui pembagi tegangan dan filter. Feedback dari ADC4 ini menentukan sinyal PWM yang diberikan
  • Sinyal trigger (TR+ dan TR-) yang di input melalui rangkaian opto MOC3021 di hubungkan melalui pin5 microcontroller (pin interupsi) menjadi start awal durasi menyala flash dengan selanjutnya memicu sinyal bagi trafo trigger (TR2) untuk memberikan tegangan ionisasi untuk xenon tube.
  • Dalam jeda waktu yang di tentukan melalui rotary encoder sebelumnya MOSFET (IR740) selanjutnya memutus hubungan tabung xenon dengan pembumian yang berarti pengaturan durasi pengosongan main capacitor sekaligus sebagai pengaturan intensitas flash.
  • Sebuah LCD 2×16 character menjadi display untuk pengaturan (durasi/power), battery level, dan main capacitor lever

note: masih ada beberapa kaki Microcontroller yang belum terpakai, tidak tertutup kemungkinan untuk update firmwarenya untuk sekaligus membuatkan rangkaian charging yg di kendalikan microcontroller..

semoga bermanfaat
Dian Kurniawan

Instrument

Elektronika yang didefinisikan sebagai sebuah cabang ilmu yang didalamnya di perlakukan pengendalian atas pergerakan elektron (sebuah bagian dari atom yang membawa muatan negatif) pada berbagai media. Hal menarik dari elektronika yang sesuai dengan namanya adalah fakta kita tidak pernah melihat elektron tersebut dengan mata secara langsung. Akan tetapi elektronika bukanlah ilmu sihir yang tidak bisa dijelaskan sience. Kita bisa mendeteksinya dengan instrument.

Masih teringat di masa kecil ketika saya tercengang melihat hadirnya televisi ataupun video player dan berhari-hari membayangkan bagaimana mungkin benda-benda tadi bisa bekerja sedemikian rupa. Akibat rasa penasaran saya kala itu, pesawat televisi (merk sharp kalau saya tidak salah) yang masih berupa seperti buffet kayu, saya buka penutup belakangnya lalu saya nyalakan, dengan harapan membuktikan apa ada liliput di dalamnya yang bekerja (maklum saya baru berumur 5-6 tahun). Beruntung saya tidak memegang flyback nya, mungkin saya hanya menyentuh bagian 220v untuk pertama kali dalam hidup saya… lumayan kaget dan sakit, tapi tidak kapok. Itulah instrumen pertama saya…. kulit saya yang kena setruum.

Memiliki perangkat instrument (alat ukur) adalah mutlak dalam elektronika, di samping instrument ciptaan Allah, seperti kulit yang meraba apakah heat sink panas, atau hidung yang mengendus bila ada komponen yang terbakar. Membiasakan menggunakan alat ukur dan sedapat mungkin mengkaitkan dengan perhitungan banyak sekali meningkatkan faktor keberhasilan alat yang kita rakit, juga banyak menghemat biaya.

1. Avometer,
Amphere-Volt-Ohm meter, yang kebetulan juga nama sebuah brand, sesungguhnya adalah sebuah instrument yang mampu mengukur besarnya arus (amphere), tegangan (voltage) dan tahanan (ohm). Alat ini sering juga di sebut Multimeter. Penjelasan lebih lanjut bisa di dapat di link berikut Multimeter

Saat ini saya memiliki 2 jenis multimeter yang satu analog merek “SUNWA” bukan “SANWA”, serta multimeter digital merk YU-FUNG (isi didalamnya adalah ICL7106/07 multimeter chip generik).

kalau ada yg berminat bersusah-susah dan bermahal-mahal untuk merakit, silahkan lihat link berikut:
ICL7107 digital voltmeter

2. Frequency Counter,
Frequency counter adalah instrument yang mampu mengukur besarnya frekwensi perdetik dari sinyal yang di ukur. Alat ini wajib dimiliki bagi kita yang ingin berkreasi di dunia RF. Dengan instrument ini kita bisa memeriksa kondisi kristal, oscillator, dan lainnya. Saya memiliki sebuah frekwensi counter made in china murah meriah dengan kemampuan ukur hingga 2.5 GHz.

Bila ingin merakit sendiri, banyak rangkaian frekwensi counter yang bisa di unduh dari internet dengan hasil yang cukup bagus, antara lain bisa dilihat pada link berikut:
*. 40 MHz Freq Counter ATMega8
*. 30 MHz Freq Counter ATTiny2313
*. 2.5 GHz Freq Counter PIC16F870 + LMX2322

walaupun project-project diatas masih ada yang rendah cakupan counternya, akan tetapi sangat mudah menambahkan prescaller untuk range frekwensi yang lebih tinggi

3. Oscilloscope,
Dengan menggunakan oscilloscope kita bisa melihat detil bentuk gelombang bukan hanya level tegangan seperti pada voltmeter khusus nya sinyal AC. Bentuk gelombang bisa memberikan banyak informasi kondisi perangkat yang kita ukur.

lama sekali saya bergelut di dunia elektronika hingga akhirnya bisa memiliki oscillocope sendiri, saya perlu menunggu 20 tahun.

Akan tetapi saat ini sudah banyak oscilloscope yang murah dan banyak yang bisa di rakit sendiri, tentu dengan batasan yang di sesuaikan dengan kebutuhan kita. Saya sempat beli IC ADC AD876 (10 bit 20MSPS) tapi belum sempat di oprek, beberapa teknik interpolasi dan teknik sampling masih menunggu… some day kalau ada waktu Insya Allah.

*. Arm DSO (Digital Storage Oscilloscope)

*. Sparkfun DIY DSO Kit

Saya sempat order DSO Kit ini tapi bukan lewat sparkfun tapi langsung ke jaytech.com

*. 40MSPS DIY Oscilloscope using ADS830

4. LC Meter,
LC meter adalah alat ukur yang mampu mengukur induktansi (L) dan kapasitansi (C). Ada beberapa multimeter telah di lengkapi pula dengan fungsi pengukuran L dan C. Saya tidak memiliki instrument buatan pabrik untuk LC meter, melainkan merakit sendiri karena menurut saya tidak terlalu sulit dan masih cukup murah untuk di rakit sendiri. Dengan LC meter ini saya dapat dengan mudah menggulung lilitan untuk mendapatkan induktansi yang tepat. Mungkin pada postingan yang lain akan saya share.

berikut adalah link project-project LC meter:
*. Very Accurate LC Meter based on PIC16F84A
*. AVR LC Meter

dan masih banyak yang lain.

5. Spectrum Analyzer,
Instrument ini memiliki tampilan fisik mirip dengan oscilloscope. Dengan spectrum analyzer kita bisa melihat amplitudo sinyal dalam suatu range frekwensi (spectral). Dengan bantuan alat ini mudah sekali melihat frekwensi harmonik yang dihasilkan suatu pemancar/osilator.

Saya pernah mencicipi menggunakan instrument ini waktu di bangku kuliah, beruntung saya bisa punya akses ke laboratorium jurusan telekomunikasi. Waktu itu saya gunakan untuk membangun rangkaian transceiver yang di gunakan untuk telemetry (remote sensing).

beberapa link membuat spectrum analyzer sendiri:
*. 1000 MHz Spectrum Analyzer
*. GBPPR 0 – 1000 MHz Spectrum Analyzer

6. SWR,
7. RF Power Meter,
8. Antenna Analyzer,

untuk tiga instrument terakhir akan coba saya share di post yang lain.

semoga bermanfaat
Dian Kurniawan

ATMega8+DDS (Direct Digital Synthesizer)

Sesuai dengan namanya DDS adalah sebuah metode sintesa frekwensi secara langsung menggunakan teknik digital. Sebuah ROM yang berisi data wave form di cuplik dalam kecepatan dan interval tertentu sehingga membentuk frekwensi yang diinginkan.

Dengan menggunakan DDS masalah-masalah yang selama ini muncul pada sintesa dengan PLL menjadi mudah diatasi, diantaranya adalah bandwidth dari VCO, settling time, continues phase switching response, noise dan sebagainya. DDS pada akhirnya menyederhanakan rancang bangun rangkaian elektronika RF serta memastikan proses sintesa frekwensi bahkan hingga akurasi 0.0001Hz (dan ini masih akan terus berkembang)… amazing..

Komponen dasar dari DDS adalah sebuah accumulator berupa running counter yang berisi nilai dari fasa gelombang yang di hasilkan. Accumulator berisi reference kepada sebuah lookup table berisi data-data untuk membentuk gelombang. Sebuah DAC mengubah data-data tersebut menjadi besaran elektris analog. Kecepatan running counter dan step dari counter menentukan frekwensi yang di hasilkan. Sebagai contoh bila running counter di update 360 kali dalam satu detik, dengan step 1, maka akan dihasilkan frekwensi 1Hz.

Lebih detil tentang cara kerja DDS bisa di baca atau di download lebih lanjut pada link berikut
Understanding Direct Digital Synthesis (DDS)

Rangkaian dibawah adalah implementasi sederhana dari DDS menggunakan IC DDS9835 (50MHz DDS). 50 MHz disini menunjukkan besarnya frekwensi referensi dari chip tersebut. Pada pratiknya dengan frekwensi referensi 50 MHz dapat di sintesa frekwensi hingga 0.4 dari referensinya, dalam hal ini 0.4×50 = 20MHz, dengan akurasi hingga 0.0116 Hz.. wew…

note:
*. hex file untuk rangkaian diatas (setelah download ubah extension menjadi zip) DDS 01
*. IF yang digunakan 8Mhz, DDS VFO out = IF – Desire Freq
*. Pilihan step freq di lakukan dengan menekan rotary encoder
*. belum di tambahkan fungsi IF selection dan lainnya

semoga bermanfaat
Dian Kurniawan